BNN: Narkotika Bisa Hambat Bonus Demografi Indonesia

JAKARTA, 27 Agustus 2026 – Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengingatkan ancaman narkotika dapat menghambat Indonesia mengoptimalkan bonus demografi. Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto menilai perlindungan generasi muda menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

BNN Ingatkan Ancaman Narkotika terhadap Bonus Demografi

Suyudi mengatakan generasi muda yang sehat, berintegritas, terampil, dan produktif merupakan modal penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu, penyelamatan generasi muda dari penyalahgunaan narkotika dinilai tidak hanya berkaitan dengan kesehatan individu.

Menurutnya, ancaman narkotika juga berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa. Semakin kuat perlindungan terhadap generasi muda, semakin besar peluang Indonesia memanfaatkan bonus demografi secara optimal.

“Karena itu, menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika berarti turut menjaga kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” kata Suyudi dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta.

Lima Pilar Penanggulangan Narkotika

BNN tidak hanya mengedepankan pemberantasan dalam menghadapi permasalahan narkotika. Strategi penanggulangan juga diperkuat dari hulu melalui lima pilar, yaitu pencegahan, pemulihan, pemberdayaan, ketahanan, dan kolaborasi.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program, termasuk penguatan Integrasi Kurikulum Anti-Narkotika (IKAN), peningkatan layanan rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, serta pembangunan ekosistem Bersih Narkoba atau Bersinar di berbagai lingkungan.

Kampus Dinilai Punya Peran Strategis

Suyudi menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendukung pelaksanaan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Peran tersebut dapat dijalankan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kampus, kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan. Lingkungan perguruan tinggi juga menjadi ruang untuk mengembangkan literasi, riset, inovasi, sekaligus membangun ketahanan mahasiswa dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman narkotika.

BNN mengajak mahasiswa dan civitas academica mengambil peran lebih aktif sebagai agen perubahan. Peran tersebut mencakup menjadi agent of change, agent of prevention, social control, dan future leader.

4.800 Mahasiswa UPNVJ Ikuti Kuliah Umum

Ajakan tersebut disampaikan Suyudi kepada sekitar 4.800 mahasiswa baru Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) dalam kuliah umum di Jakarta, Senin (10/8).

Kuliah umum bertema Generasi Bersih: Bela Negara Tanpa Narkoba itu menjadi bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UPNVJ Tahun 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Suyudi menekankan bahwa semangat bela negara dapat diwujudkan generasi muda melalui keberanian menjaga diri dan lingkungan serta menolak penyalahgunaan narkotika.

Menurutnya, konteks bela negara bagi generasi muda saat menghadapi ancaman narkotika bukan lagi sekadar persoalan mengangkat senjata. Salah satu bentuknya adalah kemampuan untuk secara tegas mengatakan tidak terhadap narkotika.

Ancaman Narkotika Semakin Kompleks

Suyudi mengatakan perkembangan kejahatan narkotika semakin kompleks. Peredaran narkotika kini dapat memanfaatkan teknologi digital, jaringan logistik, sistem keuangan modern, hingga ruang digital yang sulit terdeteksi.

Berdasarkan data yang disampaikan BNN, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia pada periode 2023–2025 mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta penduduk.

Kelompok usia 15–24 tahun menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian. Prevalensi penyalahgunaan narkotika pada kelompok usia tersebut mencapai 2,53 persen.

BNN Soroti Narkoba Jenis Baru dan Vape

Selain narkoba konvensional, BNN juga mengingatkan mahasiswa mengenai perkembangan narkoba jenis baru atau New Psychoactive Substances (NPS). Modus penyalahgunaan zat melalui rokok elektrik atau vape juga menjadi perhatian.

BNN telah melakukan pengujian terhadap 341 sampel cairan vape. Dari pengujian tersebut, ditemukan sejumlah sampel yang mengandung zat berbahaya, antara lain synthetic cannabinoid, metamfetamin, dan etomidate.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan perlu mengikuti perubahan pola dan modus penyalahgunaan zat. Karena itu, literasi mengenai bahaya narkotika dinilai penting diperkuat di lingkungan pendidikan.

Mahasiswa Didorong Jadi Agen Pencegahan

Suyudi berharap 4.800 mahasiswa baru UPNVJ dapat mengambil peran sebagai agen pencegahan narkotika. Pesan antinarkotika diharapkan dapat disebarluaskan kepada teman, keluarga, dan lingkungan sosial.

Ia menegaskan ancaman narkotika merupakan tantangan nyata terhadap kualitas manusia Indonesia. Penanganannya membutuhkan keterlibatan berbagai elemen bangsa agar perlindungan terhadap generasi muda dapat dilakukan lebih cepat dan menyeluruh.

Pelaksanaan kuliah umum tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan generasi muda terhadap penyalahgunaan narkotika. Mahasiswa didorong tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut mengambil peran aktif dalam pencegahan.

Tema Generasi Bersih: Bela Negara Tanpa Narkoba juga dinilai selaras dengan identitas UPNVJ sebagai kampus bela negara. Tema tersebut sejalan dengan PKKMB UPNVJ Tahun 2026, yakni Muda Berkarakter, Bela Negara Berdampak Nyata untuk Bangsa.

Dengan keterlibatan mahasiswa, perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah, upaya pencegahan narkotika diharapkan dapat semakin kuat. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga generasi produktif sekaligus mendukung Indonesia memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis : Amanda

CATATAN REDAKSI:
Penulis: Putri Amanda
Diterbitkan: 27 Agustus 2026 | 17:27 WIB
Penerbit: PT Danakirti Media News
Hak cipta dilindungi undang-undang. Konten ini merupakan karya orisinal PULBAKET. Dilarang menyalin atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari manajemen.

PULBAKET : Portal Berita Terkini, Dipercaya dan Kredibel